Sejarah membuktikan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam merupakan seorang yang berjiwa enterpreneurship, terbukti dari linimasa berkiprahnya beliau di dalam bidang bisnis di mulai sejak berumur 7/8 tahun dengan memulai usaha sebagai pengembala dan pedagang ternak, lalu sekitar 12 tahun membantu bisnis ekspor-impor antar Negara milik pamannya, abu thalib (ke Irak, Yordania, Bahrain, Suriah, hingga Yaman). Di umur sekitar 15-17 beliau lebih produktif di dalam hal tersebut sehingga menjadi direktur perusahaan milik Abu Thalib. lalu kemudian, di usia 20-25 tahun beliau melakukan kongsi dagang dengan Siti Khadijah dengan pola kerjasama bagi hasil (Profit Sharing/Mudlarabah). Kemudian di umur 25 tahun beliau membangun perusahaan partnership (musyarakah) bersama dengan pengusaha lain. Dan juga di umur 37 tahun beliau menjadi investor dan pemegang saham mayoritas sejumlah perusahaan.
Dan juga, beliau di dalam sebagian literatur kutubut turats disebutkan bahwasanya tidak jarang beliau menyampaikan ungkapan yang bernafaskan eduprenership, sehingga pendidikan edupreneurship bisa dieksplore dan diambil saripatinya, sehingga membuahkan hasil action yang luar biasa pengaruhnya di berbagai belahan dunia.
Para ulama’ semisal Al-Ghazali mengeluarkan slogan yang rasional didalam tatanan kehidupan pada realitanya, yaitu beliau menyampaikankan bahwasanya tatanan keagamaan akan tertata dengan rapi ketika hal-ihwal yang berhubungan dengan urusan tatanan keduniaan telah terselesaikan dengan baik.
Kewirausahaan di era gen Z ini memang menjadi sorotan yang cukup sangat menggiurkan. Banyak masyarakat desa yang berbondong-bondong ke kota pusat keramaian seperti yang dilakukan oleh sebagian masyarakat yang ada di Madura. Hal ini sebenarnya dipengaruhi oleh iklan atau informasi yang disampaikan oleh sebagian masyarakat yang sudah berpengalaman di dalam hal ini, sehingga berpengaruh terhadap mindset masyarakat yang mendengarkan iklan atau informasi tersebut. Teori ini diistilahkan dengan Teknik Persuasi (al-Khithabah/al-Iqna’) yang sempat disampaikan di dalam buku yang ditulis oleh seorang ilmuan sekaligus filsuf muslim bernama Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Uzalagh bin Tarkhan Al-Farabi yang mana di dunia barat terkenal dengan Alpharabius.
Diakui atau tidak oleh setiap elemen masyarakat, bahwasanya seseorang yang berjiwa edupreneurship itu memang sangat dibutuhkan demi kelancarannya sebuah kegiatan demi target pencapaian. Lebih-lebih persaingan marketing sangat pesat di era digital ini. Seseorang harus mempunyai inovasi, kreasi dan eksplorasi dilapangan, sehingga dia bisa membuat perbandingan antar sesama edupreneur. Oleh karena itu, menjadi edupreneur dinilai sebagai salah satu cara yang paling efektif di dalam mengembangkan sebuah komunitas pada khususnya dan menjadi penopang terhadap ketertinggalannya sebuah bangsa dan negara.
Oleh: Ahmad Roni Maulana Setiawadi (Mahasantri Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly al-Ihsan)