Oleh: Suryati
Kita tahu betul apa itu kewajiban dan apa itu budaya. Kewajiban merupakan suatu yang harus kita lakukan, tidak boleh ditinggalkan karena kita akan dapat hukuman. Sedangkan budaya, merupakan hasil cipta karya manusia yang bersifat keindahan peradaban.
Begitupun dalam berhijab, kita juga tahu bahwa itu, bagi perempuan adalah kewajiban. Sebagai insan yang ciptaannya oleh Allah disertai pesona. Maka ia wajib memelihara dirinya dari pandangan liar. Namun pada masa yang berkembang seperti sekarang ini, banyak yang meremehkan hijab bahkan lebih suka memamerkan pesonanya. yang hal itu pasti berakibat fatal. Sebagaimana hukum alam yang terjadi hal yang besar itu dari banyak hal kecil, meremehkan hijab memang bermula dari kebiasaan yang kecil. Misal awalnya terbiasa membuka hijab di depan kerabat yang memang bukan mahrom. Lantas mulai berani mengunjungi tetangga,dan begitu terus merambet pada banyak keadaan,dan situasi yang lebih banyak lagi.
Bersumber dari meremehkan inilah,perempuan di masa sekarang mulai salah menempatkan,mulai kabur antara kewajiban dan budaya, contoh yang terjadi di sekitar kita adalah perempuan yang mengharuskan dirinya berhijab di waktu tertentu saja,seperti halnya ketika hari raya baik idul fitri atau idul adha,hampir semuanya berpakaian syar’i yakni memakai gamis dan hijab bahkan dengan warna putih, tapi di lain hari dari waktu tersebut ia berpakaian terbuka,ada juga yang berhijab ketika hanya akan mengunjungi orang-orang yang di seganinya saja. Dan lebih parahnya lagi jika seorang santriwati yang sudah boyong dari sebuah pesantren malah lebih memilih untuk ngelepas hijabnya,jika di singgung tentang siapa dirinya,malah dengan enteng menjawab “pondok ya pondok rumah ya rumah..bedalah!” ketika menghadapi hal yang seperti ini, sesungguhnya apa yang tertanam dalam jiwa santriwati tersebut? Apakah berhijab hanya sebatas budaya santri? Apakah hanya sebatas lambang keindahan yang dimiliki santri?
Begitu jelas bahwa kewajiban berhijab tidak lagi di pedulikan, seolah-olah itu hanyalah sebuah mitos turun temurun dari nenek moyang yang pudar dengan sendirinya dari pikiran perseorangan seiring derasnya perkembangan masa.
Maka dari itu, kita sebagai santri harus mengokohkan dalam diri kita bahwa kewajiban berbeda dengan budaya. Kebiasaan yang di ciptakan manusia tidak bisa menorobos hukum syariat Allah SWT. Seharusnya kita cocokkan kebiasaan pada hukum Allah SWT. Bukan sebaliknya , dan merupakan jalan yang tepat tatkala kita jadikan hukum Allah sebagai budaya kita. Yakni dengan menjadikan kaum hawa terus berhijab, Sehingga akan membuat indah peradaban islam. Ketahuilah, bahwa kadar keagungan seorang wanita itu di ukur dari seberapa ia memelihara aurat dan akhlaknya.