Portal Penyejuk Hati

Ma'had Aly Al-Ihsan

Jaddung Pragaan Sumenep Madura

Ikatan dan Kebencian


*Penulis: Moh.  Ghufron S.Pd*

           Di sebuah sekolah, ada tiga orang murid yang berteman akrab. Mereka memiliki karakter yang berbeda-beda, masing-masing dari mereka ada yang memiliki sifat peduli, ada yang peka, dan ada yang sulit ditebak. Mereka mempunyai guru yang mereka juluki “guru berhati dingin”, mereka menjulukinya demikian karena guru itu pendiam dan selalu menyendiri seakan-akan memiliki sisi gelap yang membuatnya selalu membenci kebersamaan.

                Suatu hari, ketiga murid itu mendengar sang guru berhati dingin menasehati murid-murid yang lain dengan kata-katanya yang membuat ketiga murid itu terenyuh.

                “jika kalian tidak mau menghargai saya sebagai guru, setidaknya jangan halangi saya untuk menganggap kalian sebagai murid.”

Begitu kira-kira yang disampaikan guru itu pada murid-muridnya. Ternyata dia selalu diremehkan, dan keberadaannya seperti tidak dianggap dikelas. Ketiga murid itupun bertekad untuk membantu sang guru dari keterpurukan dan kegelapan yang merundungnya.

Mereka bertiga memutuskan untuk membantu semua pekerjaan sang guru sebagai langkah awal untuk mebentuk sebuah ikatan dengan sang guru, Pada akhirnya sang guru pun merasa senang dengan ketiga murid itu. Seiring berjalannya waktu, ketiganya menjadi tempat berkeluh kesah bagi sang guru, perlahan kegelapan mulai menguap dari hati sang guru. Ketiga murid tersebut merasa senang karena misi mereka berhasil. mereka pun tanpa ragu menganggap sang guru sebagai orang tua mereka, karena kedekatan yang sudah terjalin erat.

Waktu berlalu begitu cepat. Sang guru mulai menunjukkan sisi gelapnya kembali. Kebencian kembali bertahta dalam hatinya, emosi pun sulit untuk dikontrol. Penyebab utamanya karena ketiga murid kesayangannya mulai sibuk dengan urusan masing-masing sehingga pekerjaan-pekerjaannya harus dia kerjakan sendiri.

Sisi gelap sang guru berkata. “aku akan kembali seperti dulu dan aku tidak mau lagi merepotkan mereka bertiga. Mereka memiliki kehidupan masing-masing dan mungkin sebenarnya mereka hanya menganggapku sebagai beban. Aku tidak bisa hidup seperti mereka yang memiliki ikatan, sedangkan aku hanya memiliki kebencian”.

Sang guru pun sudah menjadi pendiam lagi, sering menyendiri lagi seolah tidak peduli apapun pada keadaan sekitar. Namun jauh dilubuk hatinya dia masih menghawatirkan ketiga muridnya dan masih sangat peduli pada mereka. Ketiga murid itu merasa kecewa dengan perubahan sang guru yang kembali dingin.

“mengapa kembali seperti dulu lagi, pak?”  tanya salah satu dari ketiga murid itu sedih.

“tidak apa-apa. Bapak hanya lebih suka menjadi pendiam, tapi bapak akan tetap peduli pada kalian,” jawab sang guru. Tapi hatinya berkata “saya sengaja menjauh dari kalian, karena takut sisi gelapku akan melukai hati kalian nanti. Saya menghawatirkan keadaan kalian karena hanya kalian yang peduli dan dekat denganku.”

“mengapa harus kami yang dijauhi?, mengapa tidak mereka saja yang meremehkan bapak? Kami tetap berpegang teguh atas apa yang pernah bapak ajarkan, maka kami juga akan mengatakannya, jika anda tidak ingin menganggap kami sebagai anak, tolong jangan halangi kami untuk tetap menganggap bapak sebagai orang tua kami. Bapak sudah pernah berbagi keluh kesah bersama kami, mengapa sekarang bapak ingin menyimpannya sendirian lagi?”

Ketiga murid itu terus meyakinkan sang guru untuk tetap berjalan searah dengan mereka.

“kenapa tidak bertahan bersama kami, pak? Lalu jika seandainya ada di antara kami yang memilih jalan seperti yang bapak pilih, apa yang akan bapak lakukan?”

“saya  tidak akan membiarkan hal itu terjadi!” ucap sang guru tegas lalu melanjutkan. “sifat kalian mengingatkan saya pada saat saya masih seumuran kalian. Dulu saya juga sangat peduli pada keadaan sekitar dan selalu ingin memahami perasaan orang lain. Saya harap, semoga kalian tidak akan pernah memiliki trauma yang membuat kalian membenci dan berakhir seperti saya.”

“kami sudah bertekad untuk membantu bapak. Untuk menyelamatkan bapak dari trauma yang menyergap bapak.” Ucap salah satu ketiga murid itu. “kami mengerti bahwa bapak memiliki trauma karena kehilangan sosok yang berharga dalam hidup bapak. Kami mengerti ketika bapak ingin selalu sendiri dan memutuskan untuk tidak berhubungan dengan orang lain, hanya karena bapak tidak memiliki saudara.”

Kami dan bapak sudah sering berbagi. Kami memahami apa yang anda rasakan. Bahkan sekalipun anda mengatakan kami akan berakhir seperti bapak, kami tidak peduli. Karena kami percaya pasti akan ada seseorang yang peduli pada kami dan menyelamatkan kami.”

“kenapa kalian begitu yakin?”

“kami dan bapak  adalah bukti nyata. Dan bagaimana mungkin kami akan menyerah sedangkan anda tidak pernah lelah menasehati murid-murid  bapak. Lalu apa kami punya alasan untuk tidak percaya diri? Kami belajar banyak hal dari anda, pak. Kami bisa menampung semua kebencian bapak, luapkan semua pikiran yang membebani bapak pada kami. Tapi tolong jangan halangi kami untuk tetap menganggap bapak sebagai orang tua kami.”

Sang guru bergumam dalam hati. “saling berbagi rasa sakit akan membuat kita bisa saling memahami, dan dari sana sebuah ikatan akan terjalin dengan sendirinya. Kalian memang mewarisi sifat keras kepala ku.”

Sang guru pun memutuskan untuk menghargai sebuah hubungan dan berpesan kepada ketiga muridnya yang tak lama lagi akan segera lulus sekolah menengah atas.

“aku akan menjaga hubungan ini, tapi kalian harus fokus dengan pasangan kalian untuk jenjang yang lebih baik, bawa mereka ke pelaminan. Suatu saat nanti ketika kita reuni, kita harus membawa pasangan masing-masing dan kita akan duduk bersama layaknya keluarga.”

Suatu ketika, mejelang pasca hari H diwisudanya murid-murid kelas akhir, termasuk ketiga murid itu Sang guru datang menemui ketiga muridnya.

“mengapa kalian menangis?” tanyanya melihat ketiga murid kesayangannya berlinang air mata

“Anda adalah alasan pertama untuk tangis kami. Jujur, sejak awal kami memang selalu memperhatikan bapak meskipun bapak tidak menyadarinya. Kami selalu berfikir bagaimana caranya agar bapak tidak selalu sendirian, sedang apa sekarang dan apa yang anda kerjakan. Kami mendapat pelajaran berharga dari bapak, bahwa setiap kebaikan tidak perlu mendapatkan pengakuan dari siapapun. Banyak orang bilang bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Dan hari ini kami mengakui bawa bapak lebih dari itu. Bapak adalah pahlawan di balik bayang-bayang.”

Sang guru pun berkata, “kalian mau menjalin ikatan denganku supaya aku tidak merasa sendirian dan ketika kalian mengetahui sisi gelapku, bukannya menjauh, kalian malah bertekad untuk semakin mempererat ikatan kita. Kalian luar biasa! Berhentilah menangis! Bukankah sebuah ikatan akan semakin kuat jika dihadapkan pada cobaan berupa perpisahan?” ucapnya sambil tersenyum.

“sampai jumpa!” sang guru beranjak pergi dan bergumam dalam hati “aku bersyukur, kalian bertiga memiliki tekad dan keteguhan hati. Entah  bagaimana kalian menyadari hal itu karena aku menginginkan kalian seperti itu. Perihal sisi gelapku, kebencianku dan kesendirianku, entah bagaimana menghilangkannya, namun berkat kalian bertiga, aku mulai bisa mengendalikannya. Terima kasih!”

Tanpa terasa, air mata berlinang dari pelupuk mata sang guru.

Dalam hati si murid peka berkata. “menerima orang baru harus berani pula menerima semua sisi baik maupun sisi buruk orang tersebut. Anda tetap menjadi guru yang paling mengerti dan mengenal kami dengan baik, dan kamipun menerima segala kekurangan bapak.”

“terimakasih pak!, tetap berada disini bersama kami.” Gumam si murid yang sulit di tebak dalam hati.

Si murid peduli pun berkata bijak dalam hati.” Aku kini mulai mengerti arti peduli, peduli tidak selalu tentang orang yang dicintai. Terkadang peduli punya cara tersendiri untuk orang yang tidak pernah di miliki.

Pesan Moral: Kita tidak membutuhkan orang yang berubah disaat kita berubah, karena bayangan kita sudah cukup untuk melakukan hal itu, dan kita tidak perlu menjadi baik dengan pengakuan orang lain cukup miliki kepedulian yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. 

Tulisan Populer
Tulisan Terbaru
Tulisan Terbaca