Portal Penyejuk Hati

Ma'had Aly Al-Ihsan

Jaddung Pragaan Sumenep Madura

DIA ADALAH AKU

Aku memiliki seorang teman yang gemar menulis (cerpen) dengan kepribadian kurang bergaul atau sulit bersosialisasi dengan orang lain, bisa dibilang dia adalah orang yang pemilih untuk diajak berbicara maupun beriteraksi dengannya. Suatu ketika, dia mendatangiku dan menjadikan aku orang terdekatnya. Dia pribadi yang humble, humoris dan sering menceritakan berbagai macam masalah, bahkan dia sendiri sampai capek dengan berbagai macam masalah yang dia ceritakan, kadang dia juga suka nanya tentang keseharianku mulai dari hal-hal yang menurut aku ga penting.

Dia selalu memberikan solusi padaku tanpa diminta pada saat dia mengetahui masalah apa yang aku hadapi, namun aku merasa dia tidak terlalu dekat denganku, jadinya aku hanya mengedepankan pendapatku sendiri dan pada akhirnya aku mengabaikan pendapatnya. Anehnya dia merasa nyaman dekat denganku namun berbeda dengan apa yang aku rasakan, malah sebaliknya, aku selalu merasa berjarak dengan dia meskipun dia begitu terbuka.

Dia adalah tipe orang yang sering mulai pembicaraan dengan orang yang dianggapnya dekat, mungkin aku termasuk dianggap dekat oleh dia dan awal kalimat yang selalu dia lontarkan pada saat bercerita kepadaku adalah “ini cerita temen aku” atau “ini cerita yang pernah aku baca entah dimana”. Dari sini aku mulai sadar bahwa dia hampir tidak pernah menceritakan tentang dirinya sendiri. Aku dekat dengan dia tapi aku sama sekali tidak mengerti semua hal tentangnya bahkan aku pernah berfikir bahwa aku adalah orang yg paling mengerti dan mengenal dia dengan baik, namun pemikiranku itu semua salah.

Suatu hari dia bertanya kepada ku “ini buat riset cerpen aku doang sih, kalau kamu nerima surat atau tulisan dari orang terdekat kamu, tentang kepribadiannya dan keinginan untuk hidup sendiri tanpa ada siapapun yang memahaminya, kira-kira isi yang bakalan kamu tulis itu harapannya apa untuk pembaca ?”. Kemudian aku hanya mengabaikan tentang hal itu. Waktu terus berlalu tanpa ku sadari ternyata dia sudah mulai mengasingkan diri dariku.

Aku mulai mengikuti kebiasaan dia agar aku bisa memahami apa yang dia rasakan dan mengerti mengapa dia mengasingkan diri dariku. Aku mencoba menulis tentang semua masalah yang aku hadapi ke dalam sebuah cerpen dan mencoba menutup diri dari banyak orang, ketika ada orang yang bertanya tentang apa masalah yang aku hadapi, aku mencoba untuk selalu mengalihkan pembicaraan, karena aku sadar bahwa masalahku tidaklah penting bagi siapapun.

Seandainya waktu bisa diulang kembali, aku tidak akan mengabaikan tulisan itu, aku akan bialng pada dia bahwa “aku akan berjalan disamping dia meskipun aku tidak bisa mengerti dan memahami dia, karena sejatinya seseorang yang selalu merasa sendiri hanya butuh diakui dan ingin ada orang yang mau berjalan disampingnya, tanpa harus memahami betul apa yang dia alami selama ini. Aku baru menyadarinya dengan terlambat, ternyata maksud dari cerpen itu adalah kata-kata terahir dari dia untukku, dari berbagai cerpen yang dia tulis ternyata itu semua ada kaitannya dengan kehidupan dia.

Saat ini aku sebagai seorang penulis cerpen mulai memahami, sebenarnya cerpen yang kita tulis terinspirasi dari kisah kita sendiri dan seolah-olah kita membuat karakter atau tokoh utamanya itu berbeda, karna tidak bisa diceritakan pada siapapun, oleh karena itu dituangkan ke dalam sebuah cerpen. Terkadang terlambat punya arti yang sama dengan sia-sia. Dengan begini tidak akan ada yang bertanya padaku lagi, apakah aku baik-baik saja atau tidak dan aku memutuskan untuk menjadi seperti dia agar aku bisa mengerti dia.

Takdir aku dengan dia mungkin berbeda, tetapi aku akan memilih jalan yang sama denga jalan yang sudah dia lalui, aku selalu ingin dia kembali seperti dulu dan kita bisa membuat cerpen bersama. Tidak kusangka saat ini aku menjadi seorang penulis seperti dia dan memilih menuangkan semua keluh kesah dalam sebuah cerpen.

Menghilangnya dia membuatku menemukan teman baru, yaitu buku dan cermin. Buku yang selalu bersedia membuka lembaran baru dan tidak pernah mengeluh ketika aku tuliskan berbagai masalah yang terjadi dalam hidupku, sedangkan cermin yang selalu setia mengikuti semua yang aku lakukan, ketika aku tertawa dia (cermin) juga tertawa, ketika aku menangis dia juga menangis.

Pesan Moral : Jangan pernah membuat orang-orang di sekitar kita menjadi pribadi penyendiri, dia akan mengatakan bahwa dia adalah makhluk yang tidak pernah menjadi hal penting bagi siapapun. Kesepian adalah kekosongan bagi seorang penyendiri, namun beberapa orang memilih menjadi penyendiri karena dia tidak ingin menjalin hubungan yang membuat orang lain kecewa.


Oleh: Moh. Ghufron S.Pd.

Tulisan Populer
Tulisan Terbaru
Tulisan Terbaca