Oleh : Ach. Khoiruddin
Jengkal demi jengkal ku susuri jalan setapak malam.
Suasana hening gemuruh mencekam.
Ku dengar dari jauh rintihan sedu-sedan...
Kakiku mendekat berharap tahu siapa gerangan..
Dengan bantuan senter korek yang ku taruh di saku khayalan..
Kucoba terangi kacamataku yang mulai buram...
Terlihat di sudut surau sajadah terhampar tanpa orang...
Sejenak suara itu terhenti...
Membuatku tenggelam di lautan rasa heran...
Kudekati sajadah hijau itu sembari mengucapkan salam...
Assalamualaikum.. ku katakan...
Waalaikumus salam... Begitu kudengar sahutan....
Tubuhku pucat gemetar...
Kulihat dengan jelas secarik kertas putih yang dilipat rapi di atas sajadah lusuh itu....
Kubuka kertas itu dengan rasa takut dan penasaran....
Ku baca perlahan...
Bulu kudukku berdiri seakan tahu apa yang kubaca...
Dadaku berguncang seakan kiamat telah tiba....
Sebatang rokok loba yang kubakar ..
jatuh tanpa kuduga...
Jaket hitam keangkuhan yang ku kenakan...
lepas dengan sendirinya...
Celurit tajamku yang biasa merobek gerbang Al Qur’an dan As Sunnah...
Tumpul meleleh tanpa daya...
Kudapati surat itu yang bertuliskan tinta harapan...
Dengan aksara abjad kehinaan...
Berbunyi...
Aku rindu
Aku menoleh kanan kiri...
Ternyata surat itu berasal dari detak jantung yang bersembunyi dibalik busana ceria yang ku pakai rapi...
Sentol Daya, Senin, 12 Rabiul Awal 1446 H.