هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى (15) إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى (16) اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (17) فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى (18) وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى (19) فَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَى (20
Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) kisah Musa? (15) Ketika Tuhan memanggilnya di lembah suci Tuwa (16) Pergilah engkau kepada Firaun sesungguhnya dia telah melampui batas (17) Maka katakanlah,"Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (18) Dan engkau akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar enkau takut kepadaNYA (19) Lalu Musa memperlihatkan mukjizat yang besar-An-Nazi'at 15-20.
Kisah nabi Musa yang diangkat dalam surat ini diceritakan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad. Allah menceritakan kisah ini untuk menghibur sang Nabi yang menderita hatinya lantaran penentangan dan ejekan kaum kuffar Mekkah. Dengan kisah ini, diharapkan Rasulullah tidak bersedih lagi, dan juga bisa mengambil pelajaran tentang bagaimana dakwah nabi Musa yang mengalami beragam penentangan yang lebih hebat dari lawan yang lebih kuat ketimbang kaum kuffar Mekkah.
Dikisahkan bahwa penentang Nabi Musa yaitu Firaun merupakan raja yang memiliki kekuatan 100 ribu tentara yang terlatih secara militer. 100 ribu tentara di masa ribuan tahun sebelum masehi merupakan kekuatan yang sangat besar. Imperiumnya sudah berdiri lebih dari 3 ribu tahun. Musuh Musa yang nama aslinya Ramses II ini, adalah raja terbaik di zamannya yang paling ditakuti rakyat dan Negara-negara sekitarnya.
Dialah pemersatu satu-satunya kerajaan Mesir dengan kekuatan yang dia bangun. Tak satupun raja sebelum dan sesudah dia bisa melakukan hal serupa. Yang paling mengerikan, dia bisa membunuh siapa saja dengan mudah, terutama yang menentang dirinya. Kekuatan ini tidak dimiliki penentang Nabi, kaum kuffar Quraish Mekkah.
Betapapun Firaun kekuatannya sangat dahsyat, Nabi Musa tidak gentar. Allah memanggil Musa secara langsung di lembah suci Tuwa. Di tempat itu Nabi Musa diberi mandat oleh Allah untuk mendatangi Firaun. Allah memberi mandat tersebut karena satu alasan: karena Firaun sudah togha.
Togha berarti melampui batas kepada Allah sehingga dia ingkar, dan juga kepada manusia sehingga dia bertindak sewenang-wenang, memperbudak mereka dan menitahkan mereka menyembah dirinya. Selama karakter ini masih ada, begitu Sayyid Qutub berkomentar, dunia akan rusak.
Allah memerintahkan Musa mendatangi Firaun guna memberikan ajakan dan peringatan sebelum Allah akhirnya memberikan siksa. Yang menarik adalah kalimat ajakan yang akan disampaikan Musa kepada Firaun didikte langsung oleh Allah. Ini berarti retorika dakwa Nabi Musa sangat sakral, karena langsung berasal dari Allah. Kepada Musa Allah mendikte dua hal:
Pertama, katakan kepada Firaun, adakah keinginanmu dari membersihkan diri. Ajakan yang disampaikan Musa bernada permintaan bukan perintah, sehingga membuka nuansa dialogis yang mendorong Firaun untuk berinisitif membersihkan diri.
Mufassir al-Maturidi yang mengusung perspektif Ahlis Sunnah mengatakan bahwa ajakan ini disampaikan dengan ramah dan santun. Ini didasarkan pada perintah Allah kepada duanya - seperti yang termaktub dalam surat Toha – di mana Allah memerintahkan Harun dan Musa berkata dengan lembut kepada Firaun.
Mengapa harus lembut? Rahasianya terletak pada efek kelembutan itu sendiri. Andaikata engkau bersikap keras dan kasar, begitu Allah mengingatkan Nabi, tentu orang-orang akan menjauh dari sekitarmu (Al-Imran: 159). Jadi perkataan yang lembut dan santun bisa melembutkan hati, sehingga yang diajak dengan mudah bisa mendekat dan ikut. Imam al-Maturidi mewajibkan siapapun yang mengajak kebaikan untuk bersikap santun dan lembut, termasuk kepada sosok angkuh dan bebal seperti Firaun.
Ketika ajakan yang lembut untuk membersihkan selesai disampaikan, Musa menyampai kalimat kedua yang didiktekan Allah: Engkau akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar engkau takut kepadaNYA.
Dalam konteks ini, Musa hendak memberikan petunjuk jalan menuju Allah sehingga timbul rasa takut. Petunjuk di sini, kata al-Maturidi, adalah ilmu. Jadi Musa hendak memberikan ilmu kepada Firaun. Kita bisa melihat bahwa untuk takut kepada Allah harus melalui dua hal: penyucian diri dan ilmu. Orang yang takut kepada Allah hanyalah orang yang berilmu (Q.S Fatir 38). Namun ilmu tidak akan berarti apa-apa tanpa penyucian diri.
Dengan demikian bisa dipahami bahwa tugas utama para dai adalah mengantar orang untuk takut kepada Allah. Dalam prosesnya, ajakan untuk senantiasa menyucikan diri dengan meninggalkan hal yang batil harus disampaikan pertama kali, lalu disusul dengan seruan untuk mencari ilmu. Itulah teladan yang diajarkan Allah kepada Nabi Musa ketika hendak mengajak Firaun kepada Kebaikan.
Namun dakwah tidak hanya berhenti kepada cara bagaimana mengajak saja, ia juga mencakup kredibilitas orang yang mengajak. Karena itulah, setelah nabi Musa mengajak Firaun dengan lembut untuk menyucikan diri dan menawarkan ilmu agar takut kepada Allah, beliau memperlihatkan bukti yang luar biasa: mukjizat. Ini dilakukan agar ajakannya meyakinkan dan yang diajak percaya bahwa si pengajak (dai) bukan pembual.
Lengkaplah sudah usaha Musa mengajak Firaun menuju kebaikan dengan cara rabbani sekaligus dengan bukti mukjizat yang ditunjukkan di hadapan Firaun. Lalu bagaimana hasilnya? Gagal. Firaun tidak hanya mendustakan apa yang disampaikan Musa, namun juga menentang dan berusaha membinasakannya.
Begitulah memang hakikat dakwah. Tugas utamanya mengajak kebaikan dengan cara yang benar. Dakwah tidak mengharuskan yang diajak ikut dan nunut. Nilai seorang dai diukur dari usaha dia menyampaikan dan sabar terhadap segala tantangan, bukan dari berapa banyak orang mengikuti ajakannya. Dai sama sekali tidak bertanggun jawab terhadap orang yang mengingkarinya. Itu urusan Allah.
Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada Nabi Muhammad, juga terutama kepada kita bahwa ternyata Nabi Musa mendapatkan rintangan yang jauh lebih besar dalam selama berdakwah. Nabi Musa tetap sabar dan bertahan. Lalu adakah alasan bagi kita untuk patah arang di jalan dakwah Allah.
*Wakil Mudir Bidang LPSM Ma'had Aly Al-Ihsan