Portal Penyejuk Hati

Ma'had Aly Al-Ihsan

Jaddung Pragaan Sumenep Madura

Pergi Untuk Kembali

Aku hanya ingin berbagi denganmu, berbagi resah yang kadang menyelinap di ruang kosongku. Ya, hanya denganmu bukan yang lain. Mengertilah padaku yang masih sangat membutuhkanmu untuk mengurangi rasa penat yang merongrongku. Entah kenapa rasa lelah dan penat tiba-tiba kandas saat bersamamu, yang ringan saat berucap, yang selalu mengukir senyum, senyum renyah se renyah potongan biskuit, dan indah seperti lengkungan pelangi yang terbalik.

Sore itu, kamu menarik pergelangan tanganku dan mengajak lari-lari kecil menyusuri tepian bibir pantai.

“Kamu mau bawa aku kemana ?” tanyaku penuh heran.

“Aku mau melihat senja sama kamu. Mau, kan...?” jawabmu sambil menyunggingkan senyuman.

“Tapi, kan gak usah lari-lari juga”

“Aku melihatnya sambil lari-lari sama kamu ...” pintamu sambil membujukku agar menuruti kehendakmu.

“Iya, aku tau, tapi ... !” 

“Kenapa ... ?” tanyaku dengan nada tak mengerti.

“Aku takut ... "

"Takut kenapa?"

"Aku takut kemudian hari kamu berubah.”

“Ah, mana mungkin, itu tak akan terjadi.”

 Aku melangkah menjauh enggan menjawab perkataanmu. Aku tak sanggup batinku seakan tak mampu untuk menerima di kemudian hari kau pergi meninggalkan ku. Setelah pertemuan itu kau tak lagi mengabariku, entahlah lima hari belakangan ini kau tak ada kabar, dimana kamu,? aku rindu. Aku mengambil ponselku di sebelah bantal, kau tau..? membaca kembali chatingan kita dari awal aku tertawa membacanya kau lucu saat pertama kali berkenalan denganku, kau tak pernah absen mengucapkan selamat pagi, tak pernah telat mengingatkanku untuk makan tepat waktu, sempat ku berfikir aku adalah orang yang sepesial dan paling beruntung menerima perhatian seperti itu. Tanpa sadar......TING. ada pesan masuk darimu ah masak iya darimu.

“Assalamualaikum, apa kabar.?”

Aku tak segera membalasnya, aku masih menata hati agar tak keluar dari tempatnya.

“kau sedang apa? Lama kita tak bertemu.”

Aku ketik keyboard yang berwalpepar foto bersamamu waktu duduk berdua di batu besar tepi pantai kala itu.

“waalaikumsalam, alhamdulillah baik, sedang membalas chatmu, kamu yang lama mengabariku.”

“syukurlah kalo kabarmu baik, maaf jika belakangan ini aku tak mengabarimu, aku sibuk dengan pekerjaanku.”

“iya tak apa aku mengerti.”

“apa boleh aku mengajakmu keluar besok.?”

“kemana?.. Jam berapa.?”

“ke tempat pertama kali aku mengajakmu melihat senja.”

“ada apa kau mengajakku kesana.”

“ada sesuatu yang ingin ku beritahu padamu.”

“jam berapa.?”

“jam yang sama waktu itu, kau ingat kan.?”

“iya aku ingat, sampai ketemu besok.” Aku langsung menutup ponselku lalu menaruhnya di sebelah bantal.

# # #

Aku berjalan menyusuri tepian pantai merasakan angin yang berhembus menerpa wajah mungilku, membiarkan kedua kakiku di terpa oleh ombak yang berderu.

“naila..!”

                Panggilan itu, aku kenal dengan suaranya aku berbalik mencari asal panggilan itu ternyata....ada kamu di sana, tubuhmu yang tegap dengan rambut yang terkulai ke samping membuat penampilanmu dewasa, ah aku tak bisa pungkiri bahwa kamu tampan hari ini.

“ayo duduk disana.” lagi-lagi kau menarik pergelangan tanganku tanpa izin dari ku, “sakit Al.” batinku.

“ada apa kau mengajakku kesini Al..?” tanyaku heran padamu

“aku merindukanmu.”

“jangan bercanda..”

“kurang jelas apa yang aku katakan tadi.”

“nggak-nggak aku denger kok.” Sejenak hening menemani perbincangan kita

“naila..!” kau memanggilku.

“iya apa..?” aku melihat ke arahmu.

“aku ingin bertanya padamu.”

“soal apa Al...?”

“apa arti cinta menurutmu.?”

“kenapa kau bertanya seperti itu.”

“jawab dulu.”

“emm menurutku cinta adalah bahagia jika melihat orang yang di cintainya bahagia.”

“itu menurutmu..?”

“iya salah yaa..?”

“nggak.”

“kamu aneh mengajakku kesini hanya untuk menanyakan hal konyol ini.”

“tidak bukan hanya ini nai.”

“lalu apa..?”

                Tak lama kau merogoh sakumu, lalu sambil memegang sebuah kotak berwarna merah kau bersimpuh di depanku.

“Al ngapain malu di liatin orang.”

“naila, terserah kamu mau mengatakan apapun sekarang , munggkin caraku ini lebay di matamu namun percayalah ini cara sederhanaku, tak perlu kamu berucap, tak perlu kamu keheranan, karna sebernanya laki-laki yang aneh, yang menghilang tanpa kabar waktu itu dia tidak pergi selamanya dalam hidupmu, dia hanya mempersiapkan diri untuk bersimpuh di hadapanmu dan melingkarkan cicin yang aku beli dari hasil jerih payahku, apakah aku tidak terlambat naila...?”

                Aku masih diam seribu bahasa, rangkain kata yang kamu susun menjadi kalimat panjang, kini membuat jantungku benar-benar bergetar, bagaimana bisa kau seperti ini, tanpa sadar bulir bening menetes dari hilir mataku jatuh dengan sendirinya.

“naila, apakah aku terlambat..?”

“tidak al.” jawabku gugup.

“siap untuk ku pasangkan di jari manismu..?”

“Al tunggu..!”

“ada apa nai...?”

“waktu itu ketika kamu menghilang, orang tuaku menjodohkanku dengan andra.”

“jadi benar aku terlambat..?”

“maaf Al...”

“aku yang salah, aku yang lama menghilang.”

“tidak al... aku yang salah, aku kira kamu sudah menemukan seseorang yang lebih baik dariku.”

“jadi untuk siapa cicin ini..?”

“kau pantas bahagia al, tapi bukan denganku.”

“aku kira kamu juga punya rasa yang sama denganku, namun aku salah... kamu tidak lebih menganggapku sebagai sahabat, makasih nai.....aku pamit.” Aku masih belum menjawab perkataanmu kamu sudah melangkah pergi dari hadapanku, ku tatap punggung tegapmu yang kian mulai menjauh.

“rasa itu ada Al.....” batinku.

                “ALDIAN,... aku mencintaimu...” lalu kau berbalik mendengar perkataanku, namun kau hanya tersenyum, kau lambaikan tanganmu lalu kembali berlari pergi menjauh dari penglihatanku, mata kecilku masih mengekori punggung tegapmu, ada sesak di dadaku...”sakit....” ucapku lirih, seketika itu penglihatanku buram,..semuanya gelap.


                Sudah tiga hari aku terbaring di rumah sakit, aku rindu suasana rumah, rindu sekolah, rindu AL. Apa kabar dengan dia.? sedang apa dia di sana? taukah dia jika aku disini?

Krek.. suara pintu terbuka terlihat mamah dan papah sedang berjalan ke arahku.

“ anak mamah sudah sehat yaa..?” tanya mamah padaku.

“insyaallah mah.”

“ada tamu tuh di luar, mau jenguk kamu.”

“siapa mah...?” tanyaku penasaran.

“tunanganmu” serasa tersambar petir mendengar kalimat yang di katakan mamah.

                “assalamualaikum” mataku langsung tertuju pada asal suara yang memanggil salam.

“mas andra..!”

“kamu udah sehat nai..?”

“alhamdulillah mas.”

“kapan pulang betah banget di sini...?”

“hari ini aku pulang” ku jawab semua pertanyaan mas andra dengan malas.

                Tiba-tiba dari arah belakang terlihat di ambang pintu seseorang sedang mendengarkan pembicaraan kami.

“Assalamualaikum om, tante.” Aku tak bisa terlalu lama menatapnya, aku terlalu jahat menyakitinya,sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak jatuh.

“naila...!” dia memanggilku, aku masih tidak menyangka dia akan kesini menjengukku.

“tenang nai aku kesini hanya sebentar,aku tau kamu tidak senang dengan kehadiranku..” aku tak mengerti bisa-bisanya kamu mengatakan seperti itu.

                “naila jawab dong, aldi sedang bicara sama kamu.”

“gak papa kok tan mungkin naila masih membenci saya.”

“al aku tak pernah membencimu tak pernah terlintas kalimat itu di pikiranku.” Aku hanya bisa mengatakannya dalam hati tak berani mengucapkannya langsung.

“yaudah saya pamit om, tante, ini buat naila tan, assalamualaikum..”

“hati-hati dijalan, waalaikumsalam...maafin naila ya nak aldi.”

“iya tan.”

    “Hanya segini perjuanganmu al, aku ingin kamu yang disini temani aku bukan mas andra.” Lagi-lagi aku tak bisa mengatakannya...entah air mataku tak bisa ku tahan lagi, ku biarkan ia berlalu turun membasahi pipiku.

“kapan anak mamah cengeng kayak gini..?” segera ku hapus air mataku.

“iiihh mamah.”

“yaudah siap-siap kita pulang.”

“iya mah.” Di sisi lain mas andra sepertinya tidak suka dengan kehadiran aldi, menurut kalian apa yang di di rasakan mas andra..?

                Setibanya di rumah, ku rebahkan tubuh lelahku di kasur, saat itu juga kutumpahkan semua kesedihanku, aku menyesali semuanya, “kenapa aku menerima perjodohan itu..maafin aku AL.”

“naila..! kamu belum tidur.?”

“mamah, ketok pintu dulu kalo mau masuk, mamah kok belum tidur juga..?”

“mamah denger kayak orang nangis terus mamah cari, eh tau-tau disini asalnya.”

“maaf mah.” hanya kata itu yang bisa ku katakan pada mamah.

“gak papa sayang, naila kenapa..? cerita ke mamah”

“naila gak papa kok mah.”

“jangan bohongin mamah, mamah udah tau semuanya.” Dari mana mamah tau, kenapa mamah seakan mengerti dengan masalahku saat ini.

“ini dari aldi buat kamu katanya.”

“eemm, iya mah.”

“naila masih sayangkan sama aldi..?” pertanyaan mamah sukses memubuat ku bungkam, aku takut jawabanku nanti membuat mamah marah.

“jawab dong sayang, mamah lagi nanya kok malah diem.”

“mah, maafin naila yaa, naila gak pernah cerita soal aldi ke mamah.”

“terus kenapa kamu terima perjodohan itu.?”

“naila gak mau papah marah karena naila menolaknya mah.”

“naila sayang, cinta itu hadirnya dari hati dan cinta itu juga harus saling mengerti, naila bisa saja nyakitin hatinya andra semisal masih ada nama aldi di hatinya naila, coba deh waktu itu naila cerita ke mamah mungkin perjodohan itu gak akan terjadi.” Sebulir air mata turun begitu saja, hanya mamah yang mengerti dengan keadaanku saat ini.

“tapi aldi udah gak mau ketemu naila mah.”

“mamah yakin aldi masih menunggu kamu.”

“tapi mah....”

“kejar kebahagiaanmu, mamah dan papah juga akan ikut bahagia jika kamu bahagia sayang.”

“mas andra gimana mah..?”

“andra sama keluarganya besok kesini mau ngebatalin pertunangan kamu sama andra, sebelum pulang dari rumah sakit andra bilang ke mamah, kalo andra gak bisa lanjutin lagi, andra gak bisa maksa kamu buat sayang sama dia, bahagia naila adalah aldi bukan andra.” Mendengar penjelasan mamah aku tak menyangka jika mas andra tidak seburuk yang aku kira.”Ya allah berikan wanita yang lebih baik untuk mas andra.”

“yaudah mamah istirahat...”

“ makasih mah.” Ku pegang sebuah amplop putih dengan tulisan, For Naila


“Teruntuk  NAILA NANDA APRILIA. Ku tulis namamu disini, maaf jika kehadiran selembar kertas putih ini mengganggumu, naila aku menyesal waktu itu menghilang darimu tanpa memberikan kabar sedikitpun padamu, hari itu niat ku ingin memberikan kejutan padamu... namun, tuhan berkata lain,.. Ia mempertemuakanmu dengannya dalam ikatan yang sudah jelas kamu milik dia, sekarang aku sadar nai, kalo cinta itu memang saling memberi meskipun tak seharusnya mendapat balasan, NAILA...biarlah APA KABAR menjadi pengganti AKU RINDU, biarlah JAGA DIRI BAIK-BAIK menjadi pengganti AKU SAYANG KAMU,biarlah TANGANNYA menjadi pengganti TANGANKU untuk  MENUNTUNMU,  biarlah BAHUNYA menjadi pengganti BAHUKU untuk  MENOPANGMU, biarlah GEMERCIK GERIMIS, SECARIK SENJA,  SECANGKIR TEH,  DAN SEPUNTUNG ROKOK menjadi penggantimu.

            aku merindukanmu naila.

Besok aku akan berangkat ke amerika dan menetap disana, tidak ada kamu disana, tidak ada siapapun yang aku kenal disana,

Terimakasih sudah menjadi cinta pertamaku nai...

Terimakasih sudah menjadi tema dari alur cerita hidupku...

            untukmu naila nanda aprilia semoga bahagia dengannya.”


                                                                                    Dariku: Aldian Angga Wirata.

# # #

Ku pegang erat-erat surat dari aldi, tangisku tak henti-hentinya mengalir, besok kesempatan terakhirku untuk jelasin semuanya ke aldi. “semoga aku gak terlambat Al.”

                Esok harinya aku coba mendatangi rumahnya berharap aldi masih belum berangkat, dan berharap masih ada kesempatan untukku memperbaiki semuanya.

“assalamualaikum bik, aldinya ada..?”

“eh neng naila waalaikumsalam, punten neng nak aldinya teh udah berangkat.”

“berangkat kemana bik..?” tanyaku memastikan kebenaran.

“katanya sih mau ke luar negri neng.” Ini salahku,ini semua karna salahku al, aku bodoh hiks...”aldi aku sayang sama kamu...!”

“apa tadi coba di ulang” suara itu, suara yang aku kenali,segera aku berbalik.

“aldi ini kamu.?”

“kenapa ada disini..?”

“kamu kok belum berangkat.?”

“ngapain disini naila...?”

“emmm, al aku kesini mau minta maaf.”

“buat..?”

“buat kesalahan aku.?

“gak papa, udah terlanjur sakit juga kan.?” Tubuhku kaku mendengar perkataan aldi, hanya perempuan bodoh nyakitin laki-laki seperti dia, dan itu adalah aku.

                Kemudian aldi menarik tubuhku ke dalam dekapnya, menghilangkan jarak di antara kita, “hiks...al aku sayang sama kamu.” Ucapku lirih.

“aku yakin kamu pasti datang.”

“jadi pergi..?” tanyaku memastikan.

“nggak lah masa iya aku ninggalin kamu.”

“emm, bener..?”

“iya naila nanda aprilia.” damai rasanya hatiku mendengar kabar aldi tidak jadi berangkat.

“makasih kamu mau menerimaku lagi AL”

“gak ada yang bisa gantiin kamu naila.” Kami larut dalam pelukan, membiarkan rindu berpulang pada pemiliknya.

“sejak kapan pake lipstik..?”

“mana..? aku gak pernah pake kayak gitu” ku elap bibirku yang katanya pake lipestik padahal aku gak pernah pake kayak gitu.

“hemm, itu kenapa merah..?

“ini udah aslinya kayak gini...aldi.”

“iya-iya, udah kayak gitu sederahana aja aku suka.”

“iya.” Jawabku kesal.

“naila...! liat aku.” Ku tatap wajah teduh aldi, ada kedamain di sana.

“i..iya apa..?”

“kamu yakin ingin bersamaku..?”

“kenapa nanya kayak gitu..?

“kamu taukan, aku bukan keturunan dari keluarga kaya, tidak seperti kamu, kita beda nai.”

“aldi..! dengerin aku, gak ada laki—laki miskin di mata wanita yang tulus mencintaimu, aku terima kamu apa adanya.”

“hemmm.”

“udah jangan pikirin itu, sekarang aku yang balik nanya.”

“nanya apa...?”

“di kesibukanmu setiap harinya, adakah aku yang terlintas di fikiranmu..?”

“kamu ada di setiap yang aku lihat nai.”

“setiap hari..?”

“iya setiap hari, setiap saat, setiap detik, hanya kamu... dan seterusnya hanya kamu, naila nanda aprilia.”

                Ya allah terimakasih telah hadirkan dia yang bisa membuat hari-hariku lebih bermakna, karna dia aku mengerti tentang sebuah rasa, karna dia aku lebih sering meminta padamu, karna dia juga doa-doaku menjadi lebih panjang, dia.....ALDIAN ANGGA WIRATA, laki-laki yang masuk begitu saja dalam alur cerita hidupku, sosok yang menjadi angka dari bilangan primaku, ya allah hanya satu, satukan kami di saat kami siap untuk saling melengkapi.   

Nantikan episode selanjutnya.

Penulis: *Kafilur Rahman (Siswa Kls IX MA Al-Ihsan)*

Tulisan Populer
Tulisan Terbaru
Tulisan Terbaca