Penulis : Habibullah Salman, M.Ag.*
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا (42) فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا (43) إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا (44) إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا (45)
Mereka (orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kiamat,"Kapan terjadinya?" (42) Untuk apa engkau perlu menyebutkan (waktunya)? (43) Kepada tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya) (44) Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat)-An-Nazi'at 42-45
Suatu saat, begitu Ibnu Abbas bercerita, orang musyrik Mekkah mendatangi nabi Muhammad untuk bertanya tentang kapan terjadinya hari kiamat. Mereka hendak bertanya lantaran salah satu ajaran Rasul yang sering disampaikan kepada mereka adalah bahwa nanti akan datang hari kiamat, hari ketika semua mahluk dibangkitkan. Seluruh amal ditimbang. Jika mereka tetap kafir, maka kelak, pada hari kiamat itu, mereka akan disiksa dengan pedih.
Bagi mereka, ajaran Nabi ini, dianggap sebuah peringatan. Nabi berharap dengan peringatan ini, mereka bisa takut dan memeluk agama islam.
Maka kedatangan mereka untuk bertanya tentang hari kiamat ini dianggap momen penting oleh Nabi. Nabi sangat ingin menjawab pertanyaan tersebut sehingga mereka bisa memeluk Islam. Begitu bersemangatnya, menurut riwayat Urwah bin Zubair, Nabi senantiasa memohon kepada Allah agar segera diberi jawaban. Dalam catatan Ibnu Katsir, Nabi juga bertanya kepada malaikat Jibril.
Atas pertanyaan Nabi tersebut, malaikat Jibril menjawab,"Yang ditanya, tidak lebih tahu daripada yang bertanya". Malaikat Jibril ternyata juga tidak tahu. Sebagaimana malaikat Jibril, Allah juga memberikan jawaban atas pertanyaan Nabi dalam firmannya,"Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)". Kemudian Allah melanjutkan bahwa hanya kepada Dia dikembalikan ketentuan waktu terjadinya hari kiamat. Hanya Allah yang tahu kapan hari kiamat akan tiba. Jadi ini rahasia Allah saja. Begitu rahasianya, bahkan Allah hampir juga merahasiakan waktu terjadinya kiamat dari dirinya sendiri. Begitu kurang lebih komentar al-Tabatta'i sebagaimana disitir Quraish Sihab.
Karena hanya Allah yang tahu, maka Nabi tidak bisa memberikan jawaban kepada orang-orang musrik tersebut. Hal ini, menurut al-Qurtubi, dimaksudkan oleh Allah sebagai pengingkaran terhadap pertanyaan mereka, yang pada dasarnya berangkat dari niat hendak mengolok-ngolok Nabi.
Kenapa pertanyaan mereka dianggap hendak mengolok-ngolok Nabi?
Al-Biqa'i menjawab bahwa sebenarnya dari semula mereka sudah menganggap bahwa berita datangnya hari kiamat adalah karangan Nabi saja. Dengan bertanya tentang kapan waktu terjadinya hari kiamat, mereka hendak memperbanyak bahan karangan Nabi yang tentunya juga bakalan memperbanyak bahan tertawaan mereka kepada beliau.
Ketika Nabi tidak menjawab pertanyaan mereka, pupus sudah misi kaum musyrikin tersebut.
Lalu Allah menegaskan kepada Nabi bahwa beliau hanya penyampai peringatan kepada orang yang takut terhadap peringatan yang disampaikan. Jika yang disampaikan Nabi adalah peringatan akan datangnya hari kiamat, ya tugas Nabi hanya menyampaikan peringatan tersebut kepada orang yang takut kepada hari kiamat, bagi orang yang tidak takut, diabaikan saja, karena, "Tidak pantas menentukan waktu datangnya hari kiamat karena orang yang takut akan hari kiamat, dengan ketidak jelasan kapan waktu hari kiamat, justru akan menambah ketakutannya. Sebaliknya bagi orang yang memang tidak takut terhadap kiamat, ketidak jelasan waktu datangnya, akan menambah kejelekan dirinya", begitu kata al-Biqa'i.
Misteri terjadinya kiamat ini, dalam pandangan al-Qurtubi, juga merupakan penolakan bagi siapapun yang menganggap bahwa hari kiamat adalah persoalah yang tidak bisa diterima karena dianggap tidak masuk akal. Kesalahan mereka terletak pada alat yang digunakan: akal. Padahal kiamat berada dalam masalah ruhiyat, yang gaib, yang hanya bisa dicerna dengan keimanan.
Karena itulah, orang yang beriman kepada hari kiamat, akan takut hatinya. Dia percaya bahwa kiamat akan datang. Misteri yang menyelubungi waktu kehadirannya, justru membuat dirinya makin takut, kalau-kalau kiamat datang lebih awal dari yang dia kira, atau dia dalam keadaan banyak menanggung dosa.
Sementara orang yang tidak percaya, justru akan menganggap kiamat sebagai dongeng belaka yang akan diabaikan atau jadi bahan olok-olokan, seperti yang dicontohkan kaum musrik terhadap Nabi.
Jadi, tidak diketahuinya kapan datangnya hari kiamat merupakan parameter keimanan dan keingkaran. Jika kita semakin takut lalu kemudian banyak melakukan kebaikan untuk menyambut datangnya kiamat yang tiba-tiba, berarti kita adalah orang yang beruntung. Jika kita sama sekali kurang bersemangat melakukan kebajikan lantaran peringatan datangnya kimat yang tiba-tiba tidak menggetarkan hati kita, berarti kita harus intropeksi diri.
*Mudarris Tetap Ma'had Aly Al-Ihsan Program Munasabat Alfadz al-Qur'an