Portal Penyejuk Hati

Ma'had Aly Al-Ihsan

Jaddung Pragaan Sumenep Madura

PENGHUNI SURGA

Penulis : Habibullah Salman, M.Ag*


وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41)

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya, dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya (40) maka sunggu, surgalah tempat tinggalnya (41)-An-Nazi'at

Dalam tafsir Bahrul Muhit dijelaskan bahwa ayat tersebut terkait dengan Mus'ab bin Umair. Dikisahkan dalam perang Uhud, pasukan muslim terdesak setelah pasukan pemanah, yang diperintahkan bertahan di atas bukit, tiba-tiba turun saling berebut harta ganimah. Lalu dengan segera pasukan artileri pimpinan Khalid bin Walid datang dan menggempur mereka. Satu persatu para sahabat gugur. Formasi perang pasukan muslim mulai kacau. Nabi Muhammad yang menjadi sasaran utama orang kafir dilindungi oleh paara sahabat. Salah satu sahabat yang melindungi nabi adalah Mus'ab bin Umar. Tubuhnya dijadikan tameng. Ketika perang usai, sekitar 70 sahabat gugur, termasuk Mus'ab dengan tubuh bergelimang darah dan sebilah panah yang menembus lehernya.

ketika melihat tubuh Mus'ab bin Umair, Nabi bersabda,"Saya yang akan menganggapmu di sisi Allah". Lalu kepada para sahabat beliau bertutur bahwa dulu Mus'ab, sebelum memeluk Islam, menggunakan jubah yang sangat mahal sementara tali sandalnya terbuat dari emas. Dalam sejarah dijelaskan bahwa setelah memeluk Islam dia meninggalkan itu semua, dan kini di perang uhud, dia gugur bersimbah darah berkalungkan anak panah demi melindungi junjungannya.

Oleh al-Quran Mus'ab digambarkan sebagai sosok yang takut terhadap Allah dan sanggup menahan diri dari hawa nafsunya.

Para mufassir memiliki ragam pandangan tentang arti takut terhadap Allah dan kesanggupan menahan nafsu. Sayyid Qutub mengkategorikan orang yang takut kepada Allah adalah orang yang takut melakukan maksiat. Ketakutan ini berasal dari kesadaran tentang hakikat dirinya yang lemah dibandingkan dengan Dzat Allah. Ketakutan ini juga akan melahirkan penyesalan dan pertobatan.

Orang yang takut karena sadar atas kelemahan dirinya di hadapan yang ditakuti memang akan serba hati-hati. Sedikit saja melakukan kesalahan, atau sekedar merasa bersalah akan segera menyesal dan minta ampun, karena takut dihukum, sementara dia tidak mampu menghindar dari hukuman tersebut akibat kelemahan dirinya. Imam al-Biqa'i menambahkan bahwa ketakutan itu muncul saat ingat akan kebaikan (nikmat) Allah yang begitu melimpah, diberikan tanpa diminta, dan tentu saja ketakutan itu akan semakin tebal ketika ingat keagungan dan pembalasan Allah. Bagaimana tidak takut lalu melakukan maksiat, sementara untuk membalas kebaikan Allah yang melimpah dengan amal baik sama sekali jauh dari mencukupi, kendatipun amal baik itu dilakukan sepanjang hidup.

Dengan ingat kebaikan Allah, timbul perasaan takut tidak bisa membalasnya, dan ketakutan itu akan semakin menjadi-jadi saat ingat balasan Allah kelak. Lebih jauh Imam al-Razi berkomentar bahwa rasa takut kepada Allah tidak akan pernah lahir tanpa adanya ilmu. Hanya orang yang berilmu saja yang takut kepada Allah (Q.S. Fathir: 38). Dengan ilmu bisa diketahui limpahan kebaikan Allah yang telah diberikan dan juga memahami betapa lemahnya diri ini di hadapan Allah. Dalam posisi seperti ini serta merta akan lahir kemampuan untuk menahan diri dari hawa nafsu.

Kata hawaa, yang diterjemahkan hawa nafsu, dalam ayat ini berkonotasi negatif, walaupun pada dasarnya, secara literal ia bermakna hubbun atau mailun, kecintaan atau kecendrungan dengan konotasi netral. Dalam ayat yang lain bahkan dijelaskan, untuk menunjukkan bahaya hawaa, ada sebagian orang yang menjadikan hawaa sebagai tuhannya. Dalam Bahrul Muhit diterangkan bahwa hawaa adalah  kecendrungan-kecendrungan diri yang kebanyakan tidak terpuji. Al-Biqa'i menjelaskan bahwa jeleknya kecendrungan diri itu jika dilakukan secara berlebihan dan berlomba-lomba. Inilah hawa nafsu yang perlu ditahan agar tidak diperturutkan. Jadi keinginan diri tidak jelek, selama tidak berlebihan. Bahkan imam al-Razi hanya membatasi hawa nafsu yang berbahaya pada keinginan-keinginan jelek yang menyalahi syariat. Karena tidak semua keinginan diri jelek, maka anjuran al-Quran adalah sebatas menahan diri dari memperturutkan seluruh keinginan agar tidak melampui batas dan melanggar syariat.

Sayangnya, menurt pendapat Sahl yang dikutip Imam Atsiruddin al-Andalusi, tidak ada manusia yang selamat dari jebakan hawa nafsu kecuali para siddiqin dan anbiya'. Di hadapan hawa nafsu, manusia akan senantiasa terlena dan memuaskannya sebanyak mungkin. Karena itulah sebagian ahli hikmah senantiasa berpesan,"Jika anda menginginkan kebenaran, lihatlah hawa nafsumu lalu tinggalkan." Yang lebih sulit dikendalikan, kata Sayyid Qutub, adalah hawa nafsu  yang ditopang dan didukung ilmu. Untuk menahan diri dari kecendrungan diri semacam ini adalah perjuangan yang sangat berat, lama dan sulit berhasil. Orang berilmu yang memperturutkan hawa nasunya, tidak hanya sulit mengendalikan diri dan dikendalikan, namun juga lebih berbahaya.

 Selanjutnya al-Biqa'i lebih memperjelas lagi bahwa hawa nafsu yang dimaksud untuk ditahan dan dikekang adalah keinginan untuk memilih dan mengedepankan kehidupan dunia. Dalam sebuah riwayat, Nabi bersabda bahwa keinginan terhadap dunia adalah pangkal keburukan. Dan sikap mementingkan kehidupan dunia yang timbul dari keinginan-keinginan yang hanya bersifat duniawi, merupakan penyimpangan terhadap ajaran Islam.

Di sini kita menemukan benang merah antara takut kepada Allah dengan menahan dari mementingkan kehidupan duniawi. Keduanya memang kontras. Takut kepada Allah di dasarkan kepada pandangan tentang dunia gaib, dunia yang akan datang nanti, dengan menjadikan kehidupan sekarang sebagai jembatan, ladang amal bukan tujuan. Sebaliknya, mementingkan kehidupan dunia secara otomatis memutuskan harapan terhadap dunia akhirat, yang gaib dan yang nanti. Karenanya, menurut al-Biqa'i, neraka itu penuh dengan segala kenginan diri dan surga penuh dengan apa yang dibenci diri. Artinya, penghuni neraka adalah pengumbar hawa nafsu dan penghuni neraka adalah yang bisa menahannya selama di dunia. Orang yang mementingkan dunia akan mengumbar keinginan dirinya. Inilah hawa nafsu. Sementara orang yang takut kepada Allah berupa balasan kelak di akhirat, di dunia akan menahan keinginan dirinya, dan melakukan apa yang bersebrangan dengan hawa nafsunya. Orang semacam ini, oleh Sayyid Qutub, digelari manusia merdeka, yang berhasil membebaskan dirinya dari belenggu keinginan sementara. Mus'ab bin Umair, oleh al-Quran, dinobatkan teladan manusia merdeka.

Manusia merdeka akan ditempatkan surga, taman dimana seluruh keinginan diri tersedia dengan kesenagan yang berlipat-lipat. Ini adalah kompensasi. Surga itu bernama ma'wa, yang berarti tempat peristirahatan untuk menghilangkan rasa penat setelah berjuang dengan gigih menahan diri dari desakan hawa nafsu. Mus'ab bin Umair beruntung sekali karena ayat ini turun untuk mengabarkan tentang rumah peristirahatannya yang penuh kesenangan kelak di akhirat. Kita juga beruntung karena ternyata ayat ini menjanjikan hal serupa kepada kita jika kita takut kepada Allah serta menahan diri dari hawa nafsu semata mengharap rumah peristirahatan yang megah di akhirat sana.

*Mudarris Tetap Ma'had Aly Al-Ihsan Program Munasabat Alfadz Al-Qur'an

Tulisan Populer
Tulisan Terbaru
Tulisan Terbaca